Skip to content

Proposal Konsep tuhan Ibnu Rusyd

Konsep Filsafat Ketuhanan Ibnu Rusyd

Latar Belakang

Kota Cordova terkenal sebagai pusat-pusat studi filsafat. Ibnu Rusyd mempunyai semangat yang tinggi dalam keilmuwan sehingga pada masa dinasti Almuwahidiah yang dipelopori oleh Ibnu Tumart yang menyebut dirinya sebagai Al-Mahdi. Dia berupaya untuk meniru golongan Fatimiyah yang berhasil mendirikan kekaisaran Mesir dalam hal semangat memajukan filsafat mereka. Penafsiarn mereka tentang segala keilmuwan sungguh hebat khususnya bidang astronomi dan astrologi. Tiga orang pewarisnya, dari golongan Al-Muwahidiah, ‘abd Al-Mu’min, Abu Ya’qub dan Abu Yusuf yang pernah mengajari Ibnu Rusyd disebabkan semangat mereka dalam berilmu dan berfilsafat.

Dalam analisanya tentang gagasan penciptaan ia menyatakan seputar: a). pengalaman tentang keberadaan makhluk hidup yang memberikan keterangan adanya eksistensi tuhan; b). kesimpulan dari adanya eksistensi sesuatu yang diciptakan yang menunjukkan adanya Sang Pencipta. Oleh sebab itu ia membedakan pemikiran manusia dalam pembuktian pengetahuan dan ide tentang pencipta melalui peran logika rasionalisme sebagai kunci utama dalam menguasai filsafat. Sehingga ia dikenal mampu untuk menulis komentar yang paling rumit dalam logika Aristoteles. Dan dalam kaitan memahami kandungan al-quran ini, Rusyd membagi manusia kepada tiga kelompok yaitu:

Kepada ahli awam, kata Rusyd, Alquran tidak dapat ditakwilkan, karena mereka hanya dapat memahami secara tertulis.

Demikian juga kepada golongan pendebat, takwil sulit diterapkan.

Takwil, secara tertulis dalam bentuk karya, hanya bisa diperuntukkan bagi kaum ahli fikir. Dalam pandangan itulah, takwil atas teks secara benar dapat dilakukan dan dipahami oleh ahlul fikir. Pemikiran Rusyd tersebut kemudian dikenal sebagai teori perpaduan agama dan filsafat. Sementara itu, menyangkut pemaknaan atas Quran, Rusyd berpendapat bahwa Alquran memiliki makna batin di samping makna lahir.

Dari pembagian diatas Ibnu Rusyd memaparkan bahwa Islam sendiri tidak melarang orang untuk berlogika, bahkan Al-Qurán sendiri dalam banyak ayat memerintahkan umatnya untuk mempelajari filsafat. Menurut Ibnu Rusyd, takwil (penafsiran) dan interprestasi teks dibutuhkan untuk menghindari adanya pertentangan antara pendapat akal dan filsafat serta teks Al-Qurán. Ia memaparkan, takwil yang dimaksud di sini adalah meninggalkan arti harfiyah ayat dan mengambil arti majasinya (analogi) hal ini pula yang dilakukan oleh para ulama klasik periode awal dan pertengahan.

Filsafat menghadapkan kita kepada suatu realitas perenungan terus menerus atas kebenaran, visi jelas cahaya utama dengan melepaskan ikatan dunia. Oleh karena itu agama menetapkan syarat mutlak yang paling mudah dilaksanakan dan diberikan kepada manusia, asal tidak melanggarnya.

Menurut Ibnu Rusyd, tidak ada konflik antara agama dan filosofi, bukan bahwa mereka adalah cara mencapai kebenaran yang sama. Ia percaya pada keabadian alam semesta. Dia juga menyatakan bahwa jiwa dibagi menjadi dua bagian, satu individu dan satu Tuhan, sedangkan setiap jiwa adalah tidak kekal, semua manusia di tingkat dasar dan berbagi satu sama ilahi jiwa. Ibnu Rusyd mempunyai dua jenis Pengetahuan tentang kebenaran. Pertama adalah pengetahuan-Nya kebenaran agama yang berdasarkan iman dan dengan demikian tidak dapat diuji, dan tidak melakukan itu memerlukan pelatihan untuk memahami. Kedua pengetahuan tentang kebenaran adalah filosofi yang dilindungi undang-undang untuk beberapa elit intelektual yang memiliki kemampuan untuk melakukan kajian ini.

Ketika Abu Ya’qub menjadi pemimpin, Ibnu Tufail menghadap beliau serta menerangkan dan memujinya bahwa di negerinya ada seorang ilmuwan serta ulama yang pandai yaitu Ibnu Rusyd, bapaknya serta nasabnya. Saat itu Ibnu Rusyd juga berada didepan Abu Ya’qub, kemudian Abu Ya’qub bertanya: Apa yang difikirkan oleh Filosof tentang akherat: Apakah ia kekal atau tercipta? Kemudian Ibnu Rusyd merasa bingung dan takut, kemudian ia mengalihkan pembicaraan dan memungkiri dirinya sebagai seorang filosof. Sehingga Amir berbicara dengan Ibnu Tufail, ketika Amir menjelaskan tentang pemikiran Aristoteles, Plato dan filosof-filosof Islam serta para mutakallimun ia pun tertegun mendengarkannya. Saat itu keluarlah ide-ide serta pemikirannya panjang lebar tanpa ragu-ragu, maka iapun diberi tugas oleh Amir untuk menerangkan pemikiran Aristoteles.

Kegigihan Ibnu Rusyd dalam mendalami pemikiran Aristoteles membuahkan hasil yang hebat. Ia melihat Aristoteles sebagai manusia yang sempurna dan pemikir yang mulia serta sampai pada hakekat yang mutlak tidak terkontaminasi oleh kebatilan. Oleh sebab itu, ia mempelajari segala aspek keilmuwan dari Aristoteles melalui karya-karya dan pemikirannya. Setelah itu ia mengkritisi Aristoteles dan mengambil intisari dari pemikirannya sehingga ia dapat menerangkan secara luas dan kompleks pemikiran Aristoteles.

Memang pengaruh dominan filsafat Yunani terhadap pemikiran filsafat dalam Islam tidak terbantahkan, bahkan dominasi tersebut diakui oleh para filosof Muslim. Secara diplomasi Alkindi mengatakan bahwa filsafat Yunani telah membantu umat Islam dengan bekal dan dasar-dasar pikiran serta membuka jalan bagi ukuran-ukuran kebenaran. Karena itu, beberapa teori filsafat Yunani, khususnya Aristo dipandang sejalan dengan ajaran Islam seperti teori ketuhanan, jiwa dan roh, penciptaan alam dan lain-lain. Al-Kindi dan juga beberapa filosof Muslim setelahnya muncul sebagai penerjemah, pen-syarah dan juga komentator “Yunani”. Salah satunya adalah Ibnu Rusyd yang dikenal sebagai peletak tonggak pemikiran Islam progresif. Ia selalu mendengungkan perihal pentingnya rasionalisme, tradisi kritik, semarak berijtihad, dan sebagainya.

Konstribusi Ibnu Rusyd dalam beberapa aspek keilmuwan maupun syari’at telah membuka wacana baru dalam beberapa hal, khusunya dari segi filsafat. Sehingga pemikirannya yang argumentatif berdasarkan dalilun naqli menyumbangkan pengaruh yang produktif bagi kalangan muslim khususnya Barat. Di Eropa Tengah misalnya, ia lebih dikenal dan dihargai disebabkan: pertama , tulisan-tulisannya banyak diterjemahkan ke bahasa Latin; kedua , Eropa pada zaman Renaissance dengan mudah menrima filsafat dan metode ilmiah, sedangkan di Timur saat itu ilmu filsafat mulai di tepis demi tegakkannya ilmu teologi. Oleh Corbin, Ibnu Rusyd dijadikan pembatas periodesasi filsafat Islam klasik.

Diantara masalah yang mendominasi pemikirannya dan masyarakat Timur serta Barat adalah masalah ketuhanan. Sebagai murid tidak langsung Aristoteles, sepertinya ia mengikuti jejak gurunya dalam memaparkan pendapatnya tentang ketuhanan sebagai salah satu aspek filsafat ketuhanannya. Ajaran Aristoteles tentang substansi Tuhan telah dibahas dan dikuasai oleh filosof muslim dalam bukunya Metaphysica halaman 178-179, " Tuhan merupakan penggerak pertama yang tidak digerakkan." Maka penggerak pertama merupakan substansi serta sumber gerak abadi di dunia ini. Sebab Dia penggerak dari semua gerakan, bentuk dari segala bentuk. Karena Tuhan sempurna bersifat immaterial dan tidak badani, Ia harus disamakan dengan kesadaran atau pemikiran yang memandang pemikirannya thought of thought sebagai penuuntut obyek diluarnya. Sedangkan tentang adanya alam- termasuk badan-badan jagad raya yang saling bekerja harmonis dengan mengetahui konsekuensi tujuannya. Bila ditela’ah secara konkrit pendapat Aristoteles tentang alam merupakan bagian dari teori emanasi. Beberapa pemikiran Aristoteles telah ditransformasikan dalam filsafat Islam oleh Ibnu Rusyd sehingga agama dan filsafat merupakan integritas ilmu yang harmonis. Sebagai flsuf yang membanggakan Aristoteles ia mengakui bahwa guru besarnya merupaakna "a’qal al-Yunan".

Masalah ketuhanan, merupakan salah satu masalah filsafat yang tak kunjung hilang dan selalu kontroversial hingga saat ini. Ketika zamannya, Ibnu Rusyd sangat tegas dalam menghadapi distingsi antara filsafat dan agama yang ia lontarkan terhadap mutakallimin seperti Mu’tazilah dan Asy’ariyah khususnya Ghozali dan para filosof peripatetik. Sehingga, pertanyaan yang genting saat itu adalah apakah hukum mempelajari filsafat itu haram? Untuk menjawab ini, Ibn Rusyd memberikan hipotesis. Menurutnya, secara legal-fikih (syari’i) belajar filsafat itu punya beberapa kemungkinan: bisa dibolehkan (mubah), dilarang (mahdzur), dianjurkan (nadb), atau diharuskan (wajib)? Menurut Ibn Rusyd, belajar filsafat hukumnya: wajib atau sunah untuk lebih mengenal Tuhan. Ranah filsafat dapat mengantarkan manusia kepada "pengetahuan yang lebih sempurna" (atamm al-ma’rifah), Ibnu Rusyd memberikan kesimpulan bahwa "filsafat adalah saudara bagian dari agama". Dengan kata lain, tak ada pertentangan antara wahyu dan akal; filsafat dan agama; para nabi dan Aristoteles. Menurutnya, meskipun teks-teks al-qur’an dan hadist memberi isyarat dalam masalah ketuhanan, namun para teolog dan filosof dapat menginterpretasi ulang dalam mendalami teks tersebut melalui rasionalitas dan dalil naqly.

Masing-masing golongan seperti asy’ariyah dan mu’tazilah mempunyai kepercayaan yang berlainan tentang Tuhan, banyak mengeksploitasi kata-kata syara’ dalam kepercayaannya kemudian mengkafirkan muslim yang tidak mengikuti ajarannya. Pada teori Jauhar menurut Mu’tazilah adalah partikel terkecil dalam diri tuhan yang tidak bisa terbagi diantara jauhar-jauhar yang terdapat pada ciptaan-Nya. Mu’tazilah menyangkal adanya wujud, jauhar dan ardh’ pada Tuhan. Dengan alasan, ke-Esaan tuhan yang dinisbahkan pada jauhar dan ardh’ mewajibkan Tuhan untuk memiliki bentuk agar dapat mengerjakan fi’il-Nya, sedangkan seorang pencipta wujud tidak mungkin mempunyai wujud yang sama dengan ciptaan-Nya berarti hal tersebut merupakan penentangan terhadap ke-Esaan Tuhan. Karena tidak mungkin dua bagian dalam diri Tuhan menyatu menjadi satu wujud pasti akan terjadi kontradiksi pada wujud Tuhan, maka wujud tuhan bersatu dengan sifat tuhan tanpa jauhar, ardl’ serta jism.

Sedangkan Teori Jauhar menurut Asy’ari bahwasannya Wujud Allah merupakan Jauhar (atom) yang absolut tidak terpisah dan terbagi. Jauhar al fard menetapkan bahwa segala sesuatu itu terdiri dari bagian-bagian atau ajzaa, dan bagian-bagian ini akan sampai kepada bagian yang terkecil (substansi akhir) yang tidak dapat terbagi bagi lagi, karena selanjutnya dinamakan Jauhar al fard (substansi tunggal) yang abadi pencipta jauhar-jauhar yang lain.

Contohnya, seperti proses penciptaan Tuhan melakukannya dengan kekuasaan-Nya sehingga Tuhan disifati qadim dengan kekuasaan-Nya, pertumbuhan, kejadian dan perkembangan manusia yang merupakan tingkatan-tingkatan yang pasti dilalui oleh manusia. Karena itu tidak mungkin manusia melakukannya sendiri, dari mulai nutfah, ke ‘alaqah, ke mudghah lalu menjadi daging hingga menjadi manusia yang utuh (QS.Al-Waqi’ah: 58-59). Maka Asy’ari berkesimpulan bahwa yang melakukan semua itu adalah jauhar fard atau pencipta yang mempunyai kemampuan tidak terbatas yaitu Tuhan (Allah).

Jadi Jauhar Fard pada diri tuhan sangat berhubungan dengan kekuasannya diantara ciptaan-Nya. Karena tidak mungkin seorang pencipta sama dengan makhluk-Nya ataupun mempunyai jism. Realitasnya, bila seseorang mengatakan bahwasannya Tuhan itu jism, maka merupakan sususan dari dua benda yang bersatu bila salah satu rusak ataupun cacat maka akan terlihat kekurangan-Nya. Tapi Allah tetap maha Esa, dan tidak pernah menamakan diri-Nya dengan jism. Jadi tidak aneh kalau Rasul ataupun qur’an tidak ada yang menyebut asma-Nya dengan Jism. Sebab kalau Allah menyerupai makhluknya atau jism, maka Allah mempunyai hukum yang sama dengan mereka dalam sifat pembaharuan dan perubahan dalam segala aspek. Jadi sangat mustahil yang baru bersifat qadim ataupun azaliyah, sesuai dengan firman Allah:

"Tak ada suatupun yang sebanding dengan (dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan penadhbiran-Nya)."