Skip to content

KAJIAN FILSAFAT ISLAM

Nama : Mu’minatus Fitriati Firdaus

Mata Kuliah : Filsafat Islam

 

Fakultas/Jurusan : Ushuluddin (AFI 5)
 Hari/tanggal : Rabu, 3 Desember 2008
Divisi : Mantingan
KAJIAN FILSAFAT ISLAM
Dalam beberapa buku pedoman Kurikulum perguruan Tinggi Islam pengkajian filsafat Islam adalah filsafat peripatetik dan filosof muslim pertama adalah Al-Kindi, maka terdapat persamaan pemikiran dalam filsafat Islam.Menurut Peter, dalam tradisi intelektual muslim bahwa ilmu kalam sekalipun dianggap sebagai saudari tiri , filsafat yang berasal dari Yunani (the stepsisters borne by the same mother).
Sehingga tidak aneh DeBoer dalam bukunya The History of Philoshophy in Islam dimulai dengan pemaparan Sains Yunani dan Wisdomj Timur Tenngah dengan porsi berlebihan. Maka Gustave Grenebaum menyinggung bahwa tidak adanya bentuk pemikiran rasional dalam Islam kerena hal itu merupakan pengaruh dari Hellenisme. Padahal Islam adalah agama samawy yang disebarkan melalui wahyu Illahi dan hadist rosul sebagai konstribusi utama hukum dan solusi problematika kehidupan.Namun konsep dalam al-qur’an saat diturunkan mengandung konsep seminal sehingga beberapa ayat dijelaskan melalui hadist nabawy dan disiplin ilmu serta cabang-cabangnya dalam Islam.Sebagai faktor utama yang mempengaruhi proses perkembangan pemikiran Islam, yaitu :
Al-qur’an merupakan sumber ajaran Islam mengandung konsep tuhan, manusia, moralitas dan ilmu, jika dijabarkan keseluruhannya membentuk konsep tuhan. Karena ayat-ayat al-qur’an masih berbentuk konsep seminal (belum jelas), sehingga nabi Muhammad menerangkan dan menjabarkannya melalui hadist nabawy yang diriwayatkan dan ditulis oleh para sahabat. Namun semenjak nabi Muhammad meninggal, sebagian sahabat akhirnya memutuskan proses penentuan hukum melalui ijtihad yang disandarkan pada qur’an dan hadist nabawy. Sehingga hadist nabawy dan ijtihad sahabat merupakan tradisi intelektual Islam, yang produktif dan menghasilkan komunitas-komunitas pengetahuan yang berbeda penekanan terhadap al-qur’an sesuai dengan sudut pandang para ulama saat itu.Sehingga timbullah ilmu –ilmu yang berbeda, yaitu :
Ilmu hukum berkembang menjadi fiqih
Ilmu batiniah berkembang menjadi tasawwuf
Ilmu Teologi berkembang menjadi ilmu kalam
Ilmu periwayatan hadist nabi berkembang menjadi ilmu hadist
Ilmu qur’an berkembang menjadi ulumul qur’an
Komunitas ilmu-ilmu diatas membentuk suatu integritas disiplin ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan filsafat (fiqih, tasawwuf, ilmu kalam menurut Asy’ari dan Mu’tazilah).
Tapi perkembangan kawasan Islam serta semangat para ilmuwan Islam yang ingin memperluas pengetahuannya, menuntun al-Kindi beserta filosof lainnya untuk mempelajari filsafat Yunani dalam perspektif kajian intelektual Islam.Karena keterbatasan sumber filsafat Yunani terhadap 3 konsep utama dalam filsafat yaitu, tuhan, manusia dan alam.Maka mereka hanya memperluas ajaran filsafat Aristoteles atau Peripatetik dengan mentransformasikan nilai-nilai filsafat melalui memperhatikan keadaan alam secara langsung.
Sedangkan filsafat Islam adalah pengetahuan dari Islam yang bersumber pada ilmu fiqih, tasawwuf dan kalam diperkaya oleh tradisi filsafat Yunani.
Tapi sebagian orientalis mengklaim adanya element –element filsafat dalam Islam, sesuai dengan argument –argument dibawah ini :

 

Menurut Peter, No Philosophy in Islam, and Kalam is the stepsister [of falsafah ] borne by the same mother.
Menurut Ueberweg dalam History of Philosophy, whole philosophy of the Arabians was only a form of Aristotelianisme, tempered more or less with Neo-Platonic conceptions.
Menurut Gustave E. von Grunebaum, Hellenisme memberikan bentuk pemikiran yang rasional kepada peradaban Muslim….bahkan dalam beberapa kasus menyediakan seperangkat konsep-konsep, dan pada banyak kasus menyuguhkan prinsip-prinsip klassifikasi.
Namun ada beberapa orientalis yang menyatakan adanya filsafat dan Islam salah satunnya Michael Marmura, dalam The Encyclopedia of Religion, yaitu :
Thus, the falasifah did not simply accept ideas they received through the translations. They criticized, selected, and rejected; they made distinction, refined and remolded concepts to formulate their own philosophies. But the conceptual building block, so to speak, of these philosophies remained Greek.

Tapi semuanya masih berpendapat bahwa Islam mengambil beberapa konsep dan dasar pemikiran filsafat dari Yunani.Jadi intinya mereka tetap berpendapat bahwa filsafat Islam bukan dari agama Islam secara mutlak.
Pertanyaannya, jika filsafat Islam berasal dari tradisi Yunani kenapa selama berpuluh-puluh tahun sebelum al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina dan A.L. Arrazi filsafat Yunani tidak berkembang ?
Padahal saat, Hunayn Ibn Ishaq (m. 873 )dan Tsabit bin Qurra (m.901) danYahya ibnu Adi (m.974) telah menerjemahkan karya-karya Aristoteles.Hal ini dikarenakan konsep dasar filsafat Yunani pada konsep tuhan khususnya belum jelas. Sebetulnya, filosof Islamlah yang mengawali proses transformasi pemikiran filsafat barat dan mengembangkannya, karena barat dalam pemikirannya belum jelas tentang konsep tuhan, manusia dan alam. Sehingga saat Ibnu Sina mempelajari ajaran Aristoteles, ia sangat produktif memodifikasi ajarannya dengan menulis bukunya, yaitu :
 
·

ÇáÔÝÇÁ ÇáÅáåíÉ
·
ÇáÔÝÇÁ ÇáØÈíÚíÉ
Karya tersebut kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin dan dijadikan sumber theology dalam agama Kristen.
Jadi apakah filsafat Islam ?
Filsafat Islam merupakan unsur-unsur utama dalam Tradisi Intelektual Islam yang menghasilkan komunitas Ilmu berdasarkan pada qur’an dan hadist.
Contohnya, munculnya filsafat dalam Islam, ilmu fiqih merupakan dasar utama pengembangan logika dalam Islam yang terdapat pada komponen qiyas (Islamic Philoshopia), yaitu :
o

ÇáÃÕá
o

ÇáÝÑÚ
o

ÇáÚáÉ
o
ÇáÍßã
Namun beberapa ulama Islam yang menentang adanya filsafat dalam Islam, yaitu :
Ghozali menentang hasil pemikiran intelektual Islam yang diwarnai filsafat barat, karena cenderung kufur serta bertolak belakang dengan Qur’an dan hadist. Sehingga Ghozali mengkritik para intelektual Islam yang mendalami filsafat dengan menulis dua karya besarnya, yaitu :
ãÞÇÕÏ ÇáÝáÇÓÝÉ
ÊåÇÝÊ ÇáÝáÇÓÝÉ
Dan di bukunya Tahafut Al-Falasifah, Ghozali melayangkan 20 ponit atas kritikannya terhadap Ibnu Sina yang kufur khususnya tiga point utama, yaitu :
1. Para filosof menyatakan alam ini abadi
2. Alam ini ada bukan karena diciptakan tapi melalui imanasi, seperti proses terjadi panas pada api
3. Tuhan menempati ruang dan waktu padahal ruang dan waktu tidak absolute
Para Fuqoha menentang mantiq dengan argumennya, bahwa seorang muslim yang mendalami mantiq berarti zindiq atau kafir.
Kesimpulan, sebetulnya elemen-elemen filsafat dalam Islam sudah berkembang sejak dahulu. Sedangkan metaformosa filsafat barat merupakan sumbangsi filosof muslim yang belajar pada filosof barat.