Skip to content

Cerpen about self motivation

Bersemayam dalam integritas

hati nurani dan fikiran

(Dialektika Hati Nurani dan Fikiran)

 

            Adzan Shubuh berkumandang membangkitkan aroma spiritual yang tersimpan dalam hati seorang insan beriman, menuntun langkah ini tuk menyegarkan organ-organ tubuh yang telah beristirahat sejenak dengan wudlu dan bergegas sholat shubuh. Seusainya ku menyusuri alur alam yang bertasbih menyambut pagi. Air-air embun menetes diantara bilik-bilik dedaunan, sang fajar membela membuka tabir malam nan  gelap, menampakkan seberkas sinar mentari, memercikan cahaya kehidupan di pagi cerah. Sesaat kemudian kubuka tirai kamarku, tuk menyaksikan lentera pagi dibawah naungan Illahi. Walau dada sesak terkait luka dan duka karna masalah yang tak kunjung henti, namun ku yakin sutradara kehidupan dunia yang haqiqi selalu terjaga dan memperhatikan roda kehidupan yang terus berputar pada porosnya.  Tapi apalah daya perasaan keluh kesah terkadang selalu menyelimuti fikiran ini.Padahal bentangan nikmat-Nya tak tertulis oleh hempasan tinta lautan serta  samudera nan luas. Sehingga saat emosi memuncak terjadilah dialektika antara hati nurani dan fikiran.

Fikiran, dunia luas terkadang sempit, kekayaan alam yang terkandung didasar bumi ini berlimpah-limpah tapi tertutup rapat oleh ketamakan dan kemungkaran. Manusia terlahir suci namun pertikaian dan konflik di bumi ini terus menyalah. Ya Allah, rasa-rasanya dunia ini sudah terhijab kabut dan awan hitam.

H. nurani, dunia ini sebetulnya tak sempit dan gelap jika kau mau mencari jejak mengelana di tanah-tanah indah  tertegun melihat secara kompleks nikmat-Nya ?

Perhatikanlah, saat cahaya mentari menutup rembulan nan menawan, ada sinar di dua kelopak matamu yang membiaskan spektrum warna warni kehidupan. Disetiap detik matamu memandang, menela’ah dalam rupa ciptaan-Nya, diruas-ruas jalan, ditepi-tepi gemercik air yang mengalir, ditengah-tengah hiruk pikuk keraimaian kota ada keajaiban yang terlelap larut tanpa memikirkan nikmat-Nya. Sebetulnya,  sadarkah fikiran berasap hitam tertutup waktu sinar apakah yang telah meniupkan keaneka ragaman fakta di dua kelopak matamu.

Jawabannya satu tak berkomponen ataupun berunsur, sinar Illahi yang selalu menerangi penglihatan hamba-Nya.

Fikiran, Ia aku bersyukur atas penglihatan ini, tapi kenapa kian bertambah usiaku, kian melintas langkah dan gerak tangan kurang bermanfaat ?

H. nurani, Apakah yang menghalangi gelora perjuanganmu, tahukah kau, bahwa ribuan manusia menjadi teknisi handal tak bermodal harta menggunung, uang membukit atau jabatan merajai dunia, namun bidang engeneering, skill, ketrampilan akademik dan karya-karya ilmiah dilalui dengan cepat, karna ada kekuatan hati, fikiran serta motivasi yang menggerakkan ruas-ruas jari yang kecil. Belum lagi,  kekuatan batin dan emosional qualent seorang pelukis cacat yang menginspirasikan jari-jari kakinya melalui kanvas dan cat air penuh arti makna menoreh sejarah abadi. Jika ditela’ah secara konkrit, sebetulnya permasalahan datang dari penyakit fikiran diiringi hawa nafsu yang menutup pintu-pintu kebahagiaan dalam hati nurani.

Memang kau berfikir dengan mentransfer ribuan data kedalam memori tingkat tinggi, sedang fisik dan matamu berkata padaku, kawan !

Rasa-rasanya, kuingin mengalirkan air mata darah karena sesal dan aniaya nafsu jahat, ibarat bunga-bunga yang layu dimusim kemarau membawa luka yang dalam dan tak dapat kutembus.

Ingatlah, kau sempurnah tidak buta namun ku merasakan kebutaan hati dan perasaan yang mendorong pada kesombongan, keangkuhan dan kemunafikan……!

Fikiran, kawan sudah ku fikirkan tiap detik namun kian panjang,  tapi kenapa selalu ada impian dan harapan yang menyebabkan perasaan tidak puas yang terus mendera batin ?

H. nurani, mungkin kau tlah salah menilai arti kepuasan dengan keduniawian yang maya dan sesaat. Padahal kepuasan bukan dinilai dari segi materil, kesempurnaan fisik dan akademik yang super tinggi dan hebat. Tapi coba tanyalah dengan ikhlas dan berkacalah pada hati nuranimu.

Fikiran, terus bagaimana aku merangkai untaian mutiara-mutiara hidupku ?

H. nurani,  wahai fikiran apa ingatanmu memudar ….!

Saat semuanya diam terpaku hampa tanpa solusi, siapakah yang mendengar jerit?

Saat tumpukan pekerjaan, tugas dan kewajiban terputus sesaat oleh waktu, siapakah yang menjawabnya ?

Saat kekayaan menipis karna hajat hidup yang tak terpenuhi dan semua orang menjauh, pada siapakah kau pinta kesejahteraan ?

Saat masa tua tiba, wajah memudar, daya tahan tubuh berkurang, siapakah yang menyetrumkan arti kebahagiaan ?

Fikiran, memang aku tahu akan dahsyatnya keajaiban dan kebesaran Illahi, tapi kenapa aku belum mendapatkan ketenangan dan kedamaian?

H. nurani, sebetulnya jawabannya tersirat dalam tiap detik hidupmu dengan positif thinking dalam menjalankan perintah Illahi. Karena dzat yang maha kuasa berimanen dalam realitas dan fakta  nyata yang tlah kau usai.

Ingatkah kau akan kesempurnaan fisikmu, jika kau mengeluh dan kurang bersyukur, coba renungkanlah dan jawablah dengan sejujur-jujurnya,

Pertanyaan eksklusif batin….

Duhai akal fikiran yang memendam nista dan penat

Yang haus dan rindu akan iman

Jika kau boleh memilih dalam penciptaanmu,

Jawablah dengan jujur

Berwajah rusak atau baik

Bermata satu, buta atau bisa melihat

Bertubuh cacat atau sempurna

Berotak ideot atau jenius

Mungkin, sudah terbesit jawaban di sanubarimu dan kini saatnya kau pupuk hembusan nikmat-Nya yang mendesir dengan mengalunkan lafadz syukur (Al-Hamdalah )

Fikiran, baiklah, tentunya aku selalu ingin sempurna tanpa kekurangan fisik yang menghalangiku.  

H. nurani, hal ini mengingatkanku tuk menscan memori masa lalu. perhatikanlah tanpa sembelit nafsu. Saat Bilal bertemu Rosulullah dalam keadaan menangis. Bilal bertanya, Ya rosulullah kenapa engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan mendatang ?

Rosulullah menjawab, ” Tidak bolehkah aku menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur dan siapakah yang berani menghentikan isakan tangisku atas limpahan nikmat-Nya.” Memang kepuasan duniawi 100% bukan pondasi kedamaian hidup, namun siraman segarnya air wudlu dan mata air imanlah kan melindungimu dari  jelahat, ibarat mutiara putih yang berkilau karna aurora Illahi.  

Fikiran, maaf, memang ku tak bisa bohong, bahwa sudah terlalu tinggi endapan rasa kebencian dan kemarahanku padamu wahai hati nurani. Seakan-akan ada musuh terselimuti oleh kenikmatan menyesatkan serta kepuasan membunuh etika dan estetika yang kian membaik, apakah kau merasakannya ?.

H. nurani, Jangankan merasakannya, kalau kau tahu perisai yang paling canggih sudah ku aplikasikan demimu, kawan !”

            Dialektika panjang antar hati nurani dan fikiran kian memuncak, tak terasa mentaripun kian menilluminasikan cahayanya dilengkung langit berhias awan nan putih  diantara bayang-bayang biru laut. Dihiasi  hilir mudik kupu-kupu  lewat lambat menguntai riang bersambut senyum sesaat. Renggang aku dari fikiran, mengikut perasaanku mengawal naik kian melonjak. Memang  impian dan harapan tidak burujung dan berakhir, hingga ratusan dan ribuan planing yang tiap detik bertambah  namun hanya setitik langkah  kau jalani.

H. nurani, sahabat  ruang batu, ruang kelabu begitu lapang penghuni hidup nan bijaksana laksana hakim yang mendalami filosofis kehidupan tak pernah pupus kepercayaan oleh ketidak abadian segalanya. Namun apalah daya penghuni yang mengunci memory pada sepi membiarkan satu luka disisi lain membekas luka lama mati rasa oleh racun mendinding di sekujur otakmu, kawan!”.

Fikiran, sebetulnya, yang ku tunggu  cuma kapan  lolos dari rasa sesat tumbuh dari lubuk ketakutan pada kehancuran, kekalahan juga tuduhan.

H. nurani, kawan kan kulukiskan ketentraman pada kelam sebelum malam, pada sosok samar penuh coretan warna tak berbias. Bacalah fikiranmu dengan basmalah memancar roh pendakian dan penyucian dalam bait-bait setting hidup. Bacalah makna hidup dengan ayat-ayat Illahi, kontemplasilah dengan sajadah cinta, serulah nama-Nya dengan Al-Qur’an dan hapuslah asa mendulang egois menembus sukma mengikis perasaan dengan sabar, ibarat  nabi Ayyub dalam rentan waktu memanjang dihantar sakit kian parah ditinggal sanak saudara, terkapar sendiri menggapai uluran Illahi menambah hikmah dengan bersyukur.  

Fikiran, apakah selama ini  kutak sabar dan bersyukur ?

H. nurani, sabar ibarat angin bertiup sayu menyapu rasa, menggetarkan pucuk-pucuk hatiku, tersenyum pilu diatas penat bagaikan lonjakan api melahap materi di atas batu kerikil berakhir berwujud abu terbang di udara tanpa bekas.

            Sedang bersyukur, ibarat menimba damai berujung puas menawarkan rasa aman dalam nikmat bukan keluh atau hujaman nan dahsyat memetik kritik nan kristis menambah sakit menebar racun oleh dengki, iri dan tamak tuk selalu meminta, memaksa dan memihak pada kekayaan, kedudukan serta  jabatan. 

Fikiran, wahai hati nurani adakah tempat untukku berintegritas denganmu, saat ini dan selamanya!”. Jauh dari nafsu, bisikan syetan dan jin yang baik tapi menjerumuskan, berteman tapi penghianat, pengertian tapi menyiksa, mengistirahatkan fisik tapi menghancurkan fikiran dan fungsi otak yang kini tlah ku alami. 

H. nurani, kawan sebetulnya hasratku hendak berlari bersamamu, tetapi kau melaju dengan kencang hingga habis tenagaku. Namun, kuyakin perlahan-lahan waktu kan perpihak pada kita berdua, hidup kan sentosa hening dan tenang oleh doa, usaha dan tawakkal. Karena garis penghubung telah bertemu membentuk satuan yang horizontal menuju hakekat hidup antara dunia dan akherat.

Fikiran, terimah kasih kawan, percayalah integritas hati nurani dan fikiran ini adalah tanda akan kesuksesan kita dalam menggapai ridho Illahi.

            Kini ku tlah sadar, memang tidak bisa di pungkiri bahwasannya dasar spiritual  faktor utama disintegritas hati nurani yang menonjol pada kejujuran, dan fikiran yang menonjol pada gengsi. penawar problematika kehidupan.

 

 

 

“Kawan, percayailah hati nuranimu sebelum pengaruh lain dan orang lain menguasaimu.”